8 Januari tahun 2003. Tanggal itu terukir bukan dengan tinta, melainkan dengan air mata yang tak pernah kering.
Pagi itu, Negeri Skema Langit diselimuti mendung yang bukan hanya di langit, tetapi juga di hati. Udara dingin membekukan, seolah alam semesta pun menahan napasnya untuk sebuah perpisahan yang tak terhindarkan.
Di dalam rumah yang sunyi, Ayah Igo terbaring lemah. Penyakit TBC telah merenggut napasnya perlahan, namun tidak dengan cinta yang mengikatnya pada sang istri.
Ibu Igo, dengan mata bengkak karena kurang tidur dan khawatir, menolak keras kenyataan bahwa suaminya akan pergi. Cinta itu memberinya kekuatan yang mustahil. Ibu Igo percaya, selalu ada harapan.
Subuh itu, Ibu Igo bergegas. Jauh sebelum matahari menampakkan sinarnya, Ibu Igo sudah melangkah keluar. Dalam benaknya hanya ada satu nama: obat balaicai, ramuan yang sering ia carikan untuk diminum Ayah Igo.
Ibu Igo berkeliling, dari satu sudut Desa Skema Langit ke sudut lainnya, mencari tetes terakhir harapan. Kakinya melangkah cepat, menembus kabut, melawan rasa dingin, menolak untuk menyerah.
Pukul delapan pagi, akhirnya Ibu Igo menemukannya. Dengan hati yang dipenuhi kemenangan kecil, ia bergegas pulang. Obat itu digenggam erat, seperti ia menggenggam janji untuk kesembuhan suaminya.
Namun, cinta seringkali berhadapan dengan takdir yang kejam.
Setibanya di rumah, di samping ranjang yang dingin, Ibu Igo mendapati suaminya sudah tiada. Tubuh itu, yang ia cintai seumur hidupnya, kini hening. Keheningan yang tak pernah ia bayangkan akan menusuk sesunyi ini.
Karung berisi padi yang ia pungut, kotoran lumpur di kakinya, semua terasa tak berarti di hadapan kenyataan ini. Hatinya yang baja, yang ditempa oleh kerasnya hidup, hancur berkeping-keping. Ibu Igo ambruk di sisi suaminya, air mata membasahi wajah mendiang yang damai.
Di dalam hati yang remuk redam, Ibu Igo berbisik, bisikan yang tercekik oleh duka yang tak tertahankan:
“Suamiku, mengapa engkau pergi? Anak-anak kita masih sangat kecil dan membutuhkanmu… Suamiku, aku membawakanmu obat, minumlah…”
Obat itu terlepas dari tangannya, jatuh di samping jenazah. Sebuah simbol dari usaha terakhir yang sia-sia, sebuah pertanda bahwa takdir memang tak bisa dilawan. Meskipun begitu menyakitkan, perlahan, dengan cinta yang tak terhingga, Ibu Igo mengikhlaskan kepergian belahan jiwanya.
Di saat yang bersamaan, duka itu menghantam Igo sang pahlawan kecil dan saudari-saudarinya. Igo yang baru berusia 11 tahun, duduk di bangku kelas enam SD, sedang berjuang di ujian nasional pertamanya. Igo tidak tahu, saat ia menjawab soal, ayahnya telah memejamkan mata untuk selamanya.
Igo terpaksa dipulangkan. Di rumah, Igo yang masih belia melihat sosok ayahnya yang telah kaku. Matanya yang dipenuhi air mata tidak kuasa menatap lama.
Hatinya kacau, dunianya runtuh. Igo lari ke belakang rumah, ke dekat kolam ikan. Di sana, di bawah langit mendung, ia hanya bisa merenung dalam keheningan.
Pikirannya berkecamuk. Pelindung keluarga telah pergi. Igo, satu-satunya anak laki-laki, kini ditinggalkan bersama empat saudara perempuannya yang masih membutuhkan. Beban berat yang sebelumnya ia pikul kini terasa berkali-kali lipat lebih berat.
Janji Suci di Tengah Duka
Sejak saat itu, Ibu Igo menjelma menjadi tiang tunggal. Ibu Igo tak punya pilihan. Dengan Igo dan adiknya yang masih SD, serta dua kakak Igo yang di Madrasah Aliyah dan yang tertua di bangku kuliah, ia harus berdiri tegak.
Ibu Igo kembali ke lumpur sawah, ke pekerjaan sebagai buruh tani, langkah kakinya kini bukan lagi hanya doa untuk anak-anak, tetapi juga sebuah penghormatan untuk mendiang suaminya.
Namun, cinta sejati tidak berakhir di pemakaman.
Saking dalamnya cinta Ibu Igo, hampir setiap bulan, Ibu Igo bermimpi bertemu Suami tercinta dan selalu terbangun dalam tangisan yang pilu. Kenangan itu hidup, nyata, dan menyakitkan.
Di tengah kesendiriannya membesarkan anak, sebuah janji suci ia ukir. Ibu Igo mengatakan, ia akan setia dan memilih menjanda selamanya, agar kelak, di akhirat, ia bisa dipersatukan kembali dengan suaminya.
Pengorbanan itu lebih dari sekadar kesetiaan. Itu adalah wujud cinta yang paling murni dan menyayat hati, sebuah penantian abadi di bawah langit Skema Langit, demi bertemu kembali dengan belahan jiwa yang telah mendahuluinya.
Penulis: Usman Anapia
Baca juga Skema Langit, Bagian 1: Menabur Harapan di Tanah Kering
Baca juga Skema Langit, Bagian 2: Mengapa Ayah Memilih Lapar?
Skema Langit, Bagian 3: Langkah Kaki Ibu, Jantung Ayah yang Tetap Berdetak
Skema Langit, Bagian 4: Air Mata Ibu yang Jatuh ke Lumpur Sawah
Skema Langit, Bagian 5: Cinta Sejati Ibu dan Ayah Igo
Bersambung…(Nex Bagian ke 7: Kondisi Ibu dan Saudari-saudarinya Igo Setalah Wafatnya sang Ayah Tercinta)












