Pagi yang dingin menusuk tulang. Di teras rumah, sosok Ibu berjongkok, memakai sandal yang sudah tipis. Napasnya mengepul di udara. Di punggungnya, sebuah karung goni bekas terisi nyiru, bekal nasi dan air tanpa lauk.
Mata Igo, yang saat itu masih duduk di kelas enam SD, tak bisa lepas dari sosok Ibu.
Ayah sudah tak lagi bisa berjualan es cukur. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya kian hari kian parah. Tangan yang dulu lihai meraut es, kini hanya bisa terbaring lemah.
Rumah yang dulu dipenuhi canda tawa, kini terasa sunyi, dingin. Lima anak, termasuk Igo, menjadi saksi betapa sulitnya hidup tanpa Ayah yang sehat.
Igo mencoba membantu. Ia menjadi tukang angkat barang di pasar. Namun, apa yang bisa dihasilkan seorang bocah ingusan? Uang yang ia dapatkan hanya cukup untuk membeli beberapa butir beras, itupun tidak cukup. Perut yang lapar menjadi teman setia di setiap malam.
Ibu Igo, dengan hati yang hancur, akhirnya membuat keputusan. Ia akan menjadi buruh tani.
Awalnya, ia hanya bekerja di desa sendiri, memungut sisa padi yang tercecer. Tapi, itu tidak cukup. Ia harus mencari lebih. Ia harus mencari nafkah untuk lima anaknya dan Ayah Igo yang terbaring lemah. Ibu Igo pun mulai memperluas lahan garapannya, ke desa-desa lain di Negeri Skema Langit, bahkan ke luar kota.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Ibu Igo sudah melangkahkan kakinya. Berpuluh-puluh kilometer ia tempuh dengan berjalan kaki. Jalanan yang panjang, sawah yang berlumpur, teriknya matahari yang membakar kulit, tak ia pedulikan.
Langkah kakinya adalah doa, tangannya adalah harapan. Di setiap butir keringat yang jatuh, terselip bisikan doa agar anak-anaknya bisa bersekolah, bisa makan, bisa hidup layak.
Langit bahkan ikut menangis melihat perjuangan Sang Ibu. Subuh ia sudah pergi, dan baru pulang saat malam sudah larut. Jam sepuluh malam, ia baru sampai di rumah.
Tubuhnya letih, kakinya bengkak. Namun, wajahnya selalu dipenuhi senyum. Senyum itu adalah kekuatan, penyemangat bagi Igo dan keempat saudarinya.
Dari hasil kerjanya, padi yang didapatkan Ibu Igo dijual sebagian. Uangnya dibelikan buku dan pakaian sekolah. Sisanya digiling, dijadikan beras, untuk dimakan sekeluarga.
Padi itu bukan hanya sekadar makanan. Padi itu adalah cinta, pengorbanan, dan perjuangan seorang Ibu yang tak pernah lelah.
Igo dan saudarinya tahu, langkah kaki Ibu adalah detak jantung Ayah. Langkah kaki itu adalah pengorbanan yang tak pernah terbayar, dan akan selalu terekam dalam ingatan mereka. Sebuah pengorbanan yang mengajarkan mereka arti cinta sejati, kasih sayang, dan ketulusan.*
Baca juga Skema Langit, Bagian 1: Menabur Harapan di Tanah Kering
Baca juga Skema Langit, Bagian 2: Mengapa Ayah Memilih Lapar?
Bersambung…(Nex Bagian ke 4: Tentang Ibu dan Igo)
Penulis: Usman Anapia














