Example floating
Example floating
Cerpen

Rinto

0
×

Rinto

Sebarkan artikel ini
Cerpen yang berjudul Rinto (Foto: Ilustrasi AI)

Oleh: Yulputra Noprizal

Di kedai Supiak, Nagari (Desa) Air Haji, pada siang hari sering pemuda-pemuda kampung nongkrong. Tak ramai benar memang tapi selalu saja ada pemuda-pemuda yang nongkrong di sana.

Di samping kedai Supiak ada sebatang pohon jambu air yang daunnya rimbun sekali. Ditambah angin siang yang berhembus tentu saja membuat orang-orang semakin nyaman, tenteram, dan betah nongkrong di sana. Sejuklah rasanya.

Rinto, seorang laki-laki berumur 24 tahun juga sering nongkrong di sana. Teman nongkrongnya bernama Hendri–seumuran dengannya. Rinto dan Hendri satu SD, satu SMP, dan satu SMA. Masa-masa sekolah dulu mereka belumlah akrab walau mereka sedusun.

Rinto bekerja membantu Uda (kakak laki-laki) berjualan lada dan bawang dua kali seminggu di pasar pada hari-hari pasar. Sedangkan Hendri punya pemasukan seminggu sekali setiap hari pasar dari uang parkir. Kawan nongkrong satunya lagi adalah Edo, seorang laki-laki berumur 19 tahun. Ia pengangguran. Tapi orang tuanya punya rencana menguliahkannya tahun depan ke Kota Padang.

Di halaman kedai Supiak adalah rumah Rini. Seorang perempuan berparas ayu, sederhana, dan ramah. Ia sering duduk di teras rumahnya pada siang hari. Kadang sembari mengobrol dengan adik perempuannya yang SMP bila adiknya itu sudah pulang sekolah. Kadang istirahat habis memasak gulai ikan atau sambal ikan, dan meresapi angin siang yang berembus semilir di teras. Kadang ia ingin duduk saja sembari menikmati pemandangan jalan raya yang banyak lalu-lalang kendaraan.

Rini dua tahun di bawah Rinto. Mereka dulu satu SMA–SD dan SMP Rini tinggal dan sekolah di Provinsi Riau. Rini pernah mengambil kuliah DIII di Padang tapi tidak menyelesaikannya karena masalah biaya–ayahnya meninggal saat ia semester IV. Tak lama sesudah itu ibunya pula meninggal. Kesehariannya lebih banyak di rumah tapi dua kali seminggu ia membantu Etek-nya (adik perempuan ibunya) berjualan pakaian di pasar pada hari-hari pasar.

Rinto, sembari nongkrong dengan Hendri dan Edo di kedai Supiak, tak jarang pandangannya melayang ke teras rumah Rini. Tentu saja dalam hati ia berharap, Rini duduk berlama-lama di teras rumahnya. Jika matanya sudah mendapati perempuan itu duduk di teras rumahnya, Rinto memandang Rini dengan dada yang kasmaran. Ia begitu terpesona dengan Rini sehingga pakaian apa pun yang dikenakan perempuan itu ketika duduk di teras tetap cantik di matanya.

Hendri dan Edo mengetahui kalau Rinto suka Rini. Namun, Rinto tidak mengetahui kalau Hendri dan Edo ada juga rasa suka terhadap Rini. Hendri ataupun Edo, diam-diam, juga sering melirik Rini jika perempuan itu sedang duduk di teras rumahnya–itu juga alasan Hendri dan Edo suka nongkrong di kedai Supiak.

Pada malam-malamnya yang terasa begitu sepi, sehabis nongkrong di kedai Inel–kalau malam, di kedai ini pula Rinto nongkrong dengan kawan yang lain–ia sering membayangkan jika nanti jadi bersanding di kantor KUA, adalah dirinya dan Rini. Pulang dari kedai Inel sering jam dua belas malam. Sampai di rumah Rinto tidak langsung tidur. Kalau pikirannya sudah ke mana-mana dan mata belum juga mau pejam, rasanya hanya Rinilah tempatnya menggapai. Mata tidak mau tidur; lantas ia bangkit dari berbaring dan duduk di kursi dekat jendela kamar. Rokok murah terus-menerus dihisap dan kopi dibuat. Kadang hatinya merasa begitu dekat dengan Rini karena merasa senasib, sama-sama ditinggalkan kedua orang tua.

Rinto tak cuma berkhayal dan tidak mau memupuk harapan-harapan kosong. Di siang hari ketika ia nongkrong di kedai Supiak, kadang ia menyeberangi jalan untuk bisa duduk bersama dengan perempuan itu di teras. Mereka bercengkrama. Mengobrol tentang kabar-kabar orang di kampung, pengalaman-pengalaman hidup, dan hal lainnya yang membuat suasana asyik–kadang Rinto menyelipkan sebuah-dua buah pepatah Minang di tengah obrolan.

Rinto sebenarnya ingin mengungkapkan perasaan yang terpendam selama ini kepada Rini. Kontan, tanpa perantara, di hadapan perempuan itu. Lantas, ia akan ajak perempuan itu jalan–layaknya orang pacaranlah. Tapi Rinto masih ragu-ragu. Ia ingin mencari waktu yang tepat untuk nembak Rini.

Siang itu Rinto, Hendri, dan Edo; lagi dan lagi, nongkrong di kedai Supiak. Menjelang sore.

“Kalau parkir itu uangnya dibagi dua, ya Hendri, sama pemilik lahan,” kata Rinto kepada Hendri.

“Kesepakatannya begitu. Tapi sering aku kasih ke dianya sepertiganya saja. Dia tidak tahu. Rumahnya jauh dari pasar. Hari pasar dia entah ke mana. Tidak pernah datang ke tempat parkir. Lagi pula dia kan kaya. Tauke jengkol,” jawab Hendri sembari tertawa.

“Aku sebenarnya malas kuliah. Tapi ibuku inginnya aku ‘jadi orang’. Kerja kantoran di Padang atau jadi PNS. Kata ibuku,’Tamat SMA kamu bisa apa jaman sekarang.’ Aku akhirnya menurut. Kalau nanti aku kuliah, kita tidak bisa lagi sama-sama begini” kata Edo. Seharusnya tahun lalu, setamat dari SMA, ia masuk kuliah. Tapi ia belum mau.

Mereka nongkrong sama-sama kencang merokok, putus sambung saja. Terus mengobrol, tiba-tiba Rinto minta permisi pulang. Ia belum makan siang. Tadi ia belum makan karena baru memasak nasi di magic com ketika mau ke kedai Supiak. Sekarang nasi tentu saja sudah matang. Ia tinggal membeli gulai ikan atau sambal ikan atau sambal ayam atau gulai ayam saja di rumah makan seperti hari-hari biasanya.

Sementara Rinto pergi pulang, Hendri dan Edo lantas melanjutkan ngobrol.

Dan, seperti biasa siang itu Rini keluar dari rumahnya. Duduk di teras rumah. Hendri melirik perempuan itu. Belum pernah ia mengobrol berduaan dengan perempuan itu dalam suasana santai. Hanya saling menyapa saja bila berpas-pasan jalan. Kali ini, karena hari ke hari rasa tertariknya terus meningkat kepada Rini, ia beranikan diri menghampiri perempuan itu. Ia menyeberangi jalan. Tak lama ia sudah duduk di kursi teras, berhadap-hadapan dengan Rini.

Mereka bercengkrama. Mereka mengobrol banyak hal, tapi kadang ngalor-ngidul saja. Hendri tertawa-senang mendengar jawaban Rini bila ia bertanya.

Tak lama mereka bercengkrama, Rinto kembali dengan sepeda motor dan manyaksikan Hendri dan Rini sedang sama-sama tertawa di teras. Belum sempat ia parkir sepeda motornya di depan kedai Supiak, sepeda motor Rinto memutar. Ia kembali pulang ke rumah.

“Ke mana Uda Rinto?” kata Edo.

“Rokokku tertinggal di rumah.”

Dengan sepeda motor kecepatan tinggi, Rinto kembali ke rumahnya. Sesampai di rumahnya ia menuju kamar belakang, kamarnya sendiri. Dari bawah lemari tua ia mengambil celurit. Ia selipkan di celananya, di punggungnya. Lantas, ia tergesa keluar rumah dan kembali ke kedai Supiak.

Rinto terbakar api cemburu menyaksikan Hendri dan Rini masih bercengkrama di teras rumah Rini. Nampak di matanya duduk mereka semakin dekat saja. Setelah memarkir sepeda motornya di depan rumah Rini, Rinto mengeluarkan celurit dari balik punggungnya, yang ia bawa dari rumahnya. Ia hampiri Hendri yang sedang asyik bercengkrama dengan Rini.

“Lagi mengapa kau siang-siang mengobrol tak jelas,” kata Rinto, sambil mengacungkan celurit ke arah Hendri.

“Engkau hendak mengambil Rini dariku, ha!” lanjutnya.

Hendri berdiri dari duduknya. Jarak Rinto dengan Hendri semakin dekat. Rinto masih mengacungkan celurit, jarak mereka tinggal dua meter. Dengan kesigapan yang tak terduga Hendri berhasil kabur.

“Gila kau Rinto!” katanya sambil berlari ke belakang rumah Rini yang masih banyak semak-semaknya. Rinto mengejar tapi tak berapa lama Edo berhasil memegang erat pergelangan tangannya, memitingnya. Edo lantas melepaskan pitingan. Menarik Rinto, menenangkan lelaki itu, dan mengajaknya kembali duduk di kedai Supiak.

Di teras rumahnya, menyaksikan adegan barusan, Rini begitu cemas. Ia urut-urut dadanya. Hatinya rusuh. Ada apa sebenarnya?

Ia lantas masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu rumah.

Dalam hatinya, Rini merasa tidak ada hubungan apa-apa ia dan Rinto selama ini. Jujur, ia tidak ada rasa suka pada Rinto. Rini mau mengobrol selama ini dengan Rinto karena ia menghargai tamu saja. Rinto sudah ia anggap kawan. Lagi pula, mereka kan sekampung. Yang lain tidak ada. Begitu pun kepada Hendri, tidak ada ketertarikan dalam hatinya kepada lelaki itu.

Rini berjalan gontai menuju kamarnya, tersedu. Di bayangannya, bagaimana kalau celurit Rinto tadi menghujam tubuh Hendri.

Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *