Tahun demi tahun merayap, mengukir kerut di wajah Ibu, mengikis kekuatan dari tulang-tulangnya. Sejak Igo masih mengenakan seragam SD kelas enam, saat usianya masih terlalu muda untuk mengerti beratnya beban, Ibu sudah menjelma menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di tengah petak-petak sawah.
Ayah terbaring lemah, digerogoti penyakit yang tak kunjung sembuh, menjadikan pundak Ibu satu-satunya tiang penopang bagi keluarga.
Setiap pagi, sebelum matahari sempurna memanjat langit, Ibu sudah berpamitan. Langkahnya terseok, menembus embun pagi yang dingin, menuju sawah-sawah orang manjadi buruh tani.
Tangannya yang dulu lembut membelai, kini kasar dan pecah-pecah, digarisi guratan waktu dan guratan lumpur. Ia membungkuk, menjadi pembantu di sawah orang di bawah terik mentari yang membakar kulit, atau di bawah guyuran hujan yang membuat sekujur tubuhnya menggigil.
Hanya berharap belas kasih pemilik sawah untuk diberikan segenggam padi yang tak seberapa itu, ia genggam erat, menghitungnya cermat, demi sepiring nasi dan buku-buku sekolah anak-anaknya.
Igo tumbuh. Kakak-kakak perempuannya sudah lebih dulu menyelesaikan pendidikan, bahkan meraih gelar dari perguruan tinggi Islam. Tapi perjuangan Ibu tak berhenti di situ.
Saat Igo melangkah ke bangku kuliah S1, Ibu masih setia dengan lumpur dan padi. Bahkan ketika Igo melambung lebih tinggi, menjejakkan kaki di perguruan tinggi Islam di negeri Skema Langit untuk S2-nya, Ibu tetaplah buruh tani.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia masih mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membantu membayar SPP sebesar lima juta, angka yang terasa begitu besar bagi tangannya yang renta.
Namun, ada satu hari, satu sore yang terukir pedih dalam ingatan Igo, jauh sebelum semua itu. Igo, yang saat itu masih berseragam putih abu-abu Madrasah Aliyah, memanfaatkan liburan untuk mengambil upah memotong padi.
Saat itu Ibu Igo menjalani profesinya sebagai buruh tani, mengamati punggung ringkih yang memikul begitu banyak. Tiba-tiba, langkah Ibu goyah. Tubuhnya yang menua tergelincir di pematang sawah yang licin.
Ibu terjatuh. Punggungnya menghantam tanah yang keras, membenamkan sebagian tubuhnya ke dalam lumpur dingin. Igo berlari menghampiri, jantungnya berdegup kencang melihat ibunya terkapar tak berdaya. Ibu menoleh, wajahnya sembap oleh peluh dan air mata yang kini bercampur lumpur.
“Nunu…” Suara Ibu serak, hampir tak terdengar. “Mama sudah tidak mampu lagi, Nunu. Mama sudah tua…” Air mata kembali menganak sungai di pipinya yang kotor, jatuh ke lumpur sawah, seolah-olah tanah itu pun ikut merasakan kepedihannya. “Cepat jadi orang sukses, Nak. Bantu Mama…”
Kata-kata itu, lebih dari sekadar rintihan, adalah sebuah palu godam yang menghantam hati Igo. Di sana, di pematang sawah yang basah, di samping tubuh ringkih ibunya yang terkapar, hati Igo terguncang hebat.
Ia melihat bukan hanya kelelahan fisik, tetapi keputusasaan yang begitu dalam di mata ibunya. Sebuah janji tak terucap, namun terukir abadi, muncul di benaknya. Ia akan tetap sekolah. Ia akan menjadi orang sukses. Ia akan mengangkat Ibu dari lumpur kesengsaraan ini. Ia akan membahagiakan Ibu.
Perjalanan itu panjang, sangat panjang. Penuh air mata yang tersembunyi, pengorbanan yang tak terhitung, dan doa-doa yang terpanjat di kesunyian malam. Hingga suatu hari, Igo benar-benar menuntaskan pendidikannya. Ia berhasil. Di hari itu, di hari Igo meraih gelar terakhirnya, Ibu tak lagi harus menunduk di sawah orang. Igo sudah mampu. Ia tak hanya mampu membiayai keluarganya, tetapi juga mampu menyekolahkan adik perempuannya hingga selesai kuliah.
Namun, di setiap keberhasilan itu, selalu ada bayangan pilu dari air mata Ibu yang jatuh ke lumpur sawah. Sebuah pengingat abadi tentang harga sebuah mimpi, harga sebuah kesuksesan, yang dibayar dengan setiap tetes keringat dan air mata seorang Ibu.*
Baca juga Skema Langit, Bagian 1: Menabur Harapan di Tanah Kering
Baca juga Skema Langit, Bagian 2: Mengapa Ayah Memilih Lapar?
Skema Langit, Bagian 3: Langkah Kaki Ibu, Jantung Ayah yang Tetap Berdetak
Bersambung…(Nex Bagian ke 5: Cinta Sajati Ibu dan Ayah Igo)
Penulis: Usman Anapia














