Ayah Igo adalah sosok yang mengajarkan keikhlasan dalam memberi melalui teladan, bukan sekadar kata-kata.
Suatu sore, setelah seharian berjualan es cukur, ia pulang ke rumah membawa sekantong besar ikan segar.
Tanpa ragu, ia meminta istrinya untuk memanggil tetangga agar mereka bisa mengambil ikan-ikan itu.
Igo dan saudari-saudarinya masih ingat betul bagaimana sang ayah memilih untuk memakan sisa ikan yang tersisa setelah semua tetangga mendapat bagian.
Makanan yang mereka santap malam itu mungkin bukan yang terbaik, tapi ada pelajaran berharga di dalamnya: bahwa memberi adalah prioritas, dan sisa adalah rezeki yang disyukuri.
Selain keikhlasan, ayah Igo juga sosok yang penyabar. Ia menderita sakit yang membuatnya sulit mengonsumsi makanan berminyak.
Suatu malam, hujan turun dengan derasnya. Sang Istri memasak nasi kuning, makanan yang lezat, namun tak cocok untuk ayah.
Saat dipanggil untuk makan, dengan langkah yang lemah, ia berjalan dari rumah adiknya, Aba, tempat ia tinggal, menuju rumah utama.
Setibanya di sana, ia melihat nasi kuning dan menyadari istrinya lupa akan pantangannya.
“Saya tidak bisa makan ini,” ucapnya dengan suara bergetar. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan kembali ke kamarnya, membiarkan perutnya kosong.
Ketika Ibu Igo ditanya mengapa ia memasak nasi kuning, jawabannya sederhana, “Tidak ada lauk lain.”
Ayah Igo memilih untuk menahan lapar daripada menyakiti perasaan istrinya dengan protes yang lebih keras.
Baca bagian 1:Menabur Harapan di Tanah Kering
Meskipun hidup dalam keterbatasan, ayah dan ibu Igo memiliki satu impian besar: menyekolahkan anak-anak mereka setinggi-tingginya.
Demi mewujudkan impian itu, terutama untuk anak sulungnya, sang ayah rela menjual satu-satunya petak sawah yang mereka miliki. Itu adalah pengorbanan terbesar yang pernah ia lakukan, sebuah bukti nyata betapa besar cintanya pada anak-anak.
Saat itu, semua anaknya menempuh pendidikan di jenjang yang berbeda: anak sulung kuliah di perguruan tinggi Islam, saudari kedua di Aliyah, yang ketiga di SMP, sementara Igo dan adik perempuannya masih di SD.
Selain pendidikan formal, ayah dan ibu Igo juga menanamkan pondasi agama yang kuat. Ibu Igo, yang merupakan seorang Qori’ah, mengajarkan Al-Qur’an kepada semua anak-anaknya, memastikan mereka tumbuh dengan bekal iman dan ilmu yang seimbang.
Bersambung…(Nex Bagian ke 3)
Penulis: Usman Anapia














