Example floating
Example floating
CerpenSASTRA

Skema Langit, Bagian 5: Cinta Sejati Ibu dan Ayah Igo

0
×

Skema Langit, Bagian 5: Cinta Sejati Ibu dan Ayah Igo

Sebarkan artikel ini
Skema Langit, Bagian 5: Cinta Sejati Ibu dan Ayah Igo. (Kolase Foto: diilustrasikan dari foto asli penulis dan foto google)

Di Negeri Skema Langit, ada banyak cerita tentang ketegaran, namun tak ada yang lebih hening dan menyayat dari babak cinta ayah dan ibu Igo.

Jauh sebelum lumpur sawah menjadi saksi perjuangan sang ibu, ada sebuah kisah yang terukir dalam debu jalanan, derit sepeda tua, dan napas yang kian memendek.

Kala itu, penyakit TBC telah merenggut segalanya dari ayah Igo. Ia tak lagi bisa merasakan manisnya tawa anak-anak di pelelangan ikan tempat ia berjualan es cukur.

Paru-parunya yang dulu menampung udara laut kini dipenuhi badai; setiap tarikan napas adalah perjuangan, dan setiap embusannya adalah batuk parau yang seakan merobek dadanya dari dalam. Tubuhnya ringkih, namun hatinya adalah baja yang ditempa oleh cinta.

Di saat-saat ketika badannya terasa sedikit lebih baik, sebuah keinginan yang tak tertahankan akan mendorongnya bangkit. Bukan untuk dirinya, tetapi untuk belahan jiwanya.

Ibu Igo, wanita tangguh itu, terpaksa menjadi buruh pemungut sisa padi (buruh tani) di desa seberang, sebuah pekerjaan yang menundukkan punggungnya dari fajar hingga senja.

Maka, dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan, ayah Igo akan meraih sepeda bututnya. Kerangka besi tua itu menjadi saksi bisu perjalanannya. Mengayuh di bawah terik matahari, jarak yang jauh terasa berkali-kali lipat lebih menyiksa bagi tubuhnya yang rapuh.

Batuk kering yang tak henti-hentinya menjadi irama paksa, mengguncang seluruh tubuhnya. Namun, di antara rasa sakit itu, ada sebuah mesin yang terus bekerja: hatinya yang dipenuhi rasa syukur dan cinta untuk sang istri.

Setiap kayuhan adalah sebuah kalimat cinta. Setiap embusan napas yang menyakitkan adalah doa agar ia bisa segera melihat wajah lelah istrinya.

Matanya yang mulai redup akan berbinar saat dari kejauhan ia melihat siluet Ibu Igo di tengah hamparan sawah yang luas. Ayah Igo akan memarkir sepedanya di pematang jalan, lalu berjalan tertatih memasuki lumpur untuk menjemput permaisurinya.

Di sanalah, di tengah sawah, pertemuan itu terjadi. Tak banyak kata yang terucap. Ibu Igo akan menatapnya dengan tatapan yang bercampur antara cinta, haru, dan luka yang tak terkatakan melihat suaminya memaksakan diri. Ayah Igo hanya akan tersenyum, senyum tulus yang seolah berkata, “Aku di sini.”

Dengan napas yang tersengal, ia akan mengambil karung berisi padi dari pundak istrinya.

Ayah Igo memikulnya, sebuah tindakan simbolis dari seorang suami yang ingin meringankan beban istrinya, meskipun beban di tubuhnya sendiri sudah tak tertanggungkan. Mereka berjalan beriringan keluar dari sawah.

Tiba di jalan raya, karung padi itu diikatkan di sepeda. Mereka tidak menaikinya. Berdua, mereka berjalan kaki, mendorong sepeda yang kini menjadi tumpuan hidup mereka. Ayah Igo di satu sisi, ibu di sisi lain. Langkah mereka pelan, diiringi derit sepeda dan suara batuk sang ayah yang memecah kesunyian senja.

Dalam keheningan itu, cinta mereka berbicara lebih nyaring dari seribu kata. Ibu Igo tak pernah mengeluh. Baginya, kehadiran suaminya di sisinya sudah lebih dari cukup.

Itulah salah satu kayuhan sepeda terakhirnya. Tak lama setelah itu, tubuh ayah Igo menyerah. Ia terbaring lemas, tak lagi mampu bangkit dari pembaringan.

Hingga hari ini, jika Ibu Igo bercerita, matanya akan berkaca-kaca. “Ayahmu itu laki-laki paling baik,” bisiknya. “Seumur hidup bersama, tangannya tak pernah memukul, mulutnya tak pernah berkata kasar. Dia tidak merokok, tidak minum. Dia pendiam, tapi cintanya adalah hal paling riuh yang pernah kudengar.”

Penulis: Usman Anapia

Baca juga Skema Langit, Bagian 1: Menabur Harapan di Tanah Kering

Baca juga Skema Langit, Bagian 2: Mengapa Ayah Memilih Lapar?

Skema Langit, Bagian 3: Langkah Kaki Ibu, Jantung Ayah yang Tetap Berdetak

Skema Langit, Bagian 4: Air Mata Ibu yang Jatuh ke Lumpur Sawah

Bersambung…(Nex Bagian ke 6: Wafatnya Ayah Igo)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Oleh: Yulputra Noprizal Di kedai Supiak, Nagari (Desa)…