Mata Air
Tuhan, sejatinya aku ini miskin
dan, Engkaulah Sang Mata Air Surgawi itu
mengalir, menderas, mengucur
membasahi, menyirami
hati-hati kami yang dahaga
oleh manipulasi dunia.
Purbalingga, Maret 2025
Pengharapan
Kami tidak bisa berharap pada jabatan,
Kami pernah terperosok ke jurang karenanya.
Kami tidak bisa berharap pada uang,
Kami pernah terlilit oleh jeratnya yang membelenggu.
Kami tidak bisa berharap kepada manusia,
Kami pernah frustasi oleh tipu daya kata-kata manisnya.
Harap kami hanya layak disandarkan pada pundak-Mu
Tempat kasih yang tak pernah pilih kasih.
Purbalingga, Maret 2025
Salah Persepsi
Kebodohan menjangkiti kami
Dimana-mana sumpah serapah ditebar
Duri-duri kami injaki satu persatu
Kami berseru pada orang di laman media sosial
Kakimu berdarah, sini kami obati
Kami terlalu fokus pada kaki orang lain’
Hingga lupa bahwa kaki kami telah berlumuran darah
Purbalingga, Maret 2025
Tenggelam
Setiap pagi kau tenggelam
dalam sebuah arena yang mencekam.
Kau nyalakan gawaimu tanpa pernah tau arah
Kemana kau akan melayarkan kapal?
Apakah ke sebuah jurang bernama ketenaran?
Atau ke sebuah palung bernama validasi?
Atau ke sebuah tebing bernama citra diri?
Kau adalah anak zaman yang tenggelam
Kau tidak akan menjadi pulau kecil yang mencuat
lantaran kau tenggelam dalam banal-banal yang semu
di sebuah laman media sosial.
Purbalingga, Maret 2025
Minimalis
Salah satu cara menjaga diri agar tidak
tercemar limbah sosial adalah dengan
membuang sosmed pada tempatnya.
Purbalingga, Maret 2024
Puasa
Tuhan, kami gagal untuk berpuasa
lantaran sudah membakar saudara kami
dalam sebuah status WA yang tidak
sengaja kami buat.
Purbalingga, Maret 2024
Jari-Jari
Jari kami bisa berbicara dengan lantang
Geraknya lebih lincah dari manipulasi lidah
Jika Anda mengira mulut kami sadis,
maka jari kami adalah sebuah makhluk tetesan iblis.
Jangan hanya puasa berbicara kotor,
Puasalah dari amukan jari yang bisa mencubiti
menyakiti bahkan mencaci hati liyan di luar sana
tanpa harus menyentuhnya.
Purbalingga, Maret 2025
Usang
Kami harus mepebaharui iman kami
Setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik
Aku sudah tak menentu
Terbawa angin tropis, terpental ke timur
Tersapu topan, melaju ke barat
Disapu desiran tornado, aku melayang jauh ke selatan
Diterjang badai, aku menuju ke utara
Dimanakah Kau ini?
Atau aku yang terlalu sibuk mencari tanpa tau esensi
Imanku pada-Mu begitu usang
Sekali saja lalai, aku adalah makhluk tak tau diri
Padahal, dalam setiap detik
Kasih-Mu senantiasa membersamaiku.
Tuhanku, maafkan kelalaianku yang mengakar
dalam perut bumi.
Purbalingga, Maret 2025
Tentang Penulis: Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, 01 Januari 2001. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Karyanya telah tertulis di berbagai media diantaranya; Majalah An-Nuqtoh, barisan.co, mojok.co, litera.co, tajdid.id, sumenepnews.com, mbludus.com, rumahliterasisumenep.org, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.id, geger.id, metafor.id, lamanriau.com, lenggokmedia.com, morfobiru.com, labrak.co, maca.web.id, literasikalbar.com, negerikertas.com, secukupnya.com, nalarpolitik.com, riausastra.com dan puisi.id. Juara 3 LCQN Pena Artas, Juara 3 LCPN Komunitas Tanjungisme, Juara 2 LCPTN Mannera. Dua bukunya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).*














