Example floating
Example floating
Puisi

Femmy

0
×

Femmy

Sebarkan artikel ini
Puisi yang berjudul "Femmy" dari Dinda untuk Yunda spesial moment Ulang Tahun Ke-51 (Foto: Ilustrasi AI).

Puisi Dinda untuk Yunda
Spesial Moment Ulang Tahun ke-51

Di tengah gemerlap jabatan,
Yunda tak berubah jarak,
justru makin dekat.

Dekat pada kader,
dekat pada rakyat
yang suaranya kerap tenggelam.

Di rahim HMI,
Yunda bukan sekadar nama,
bukan hanya senior forum.

Yunda adalah tangan terulur
saat kader kehilangan arah.

Yunda paham,
idealisme tak cukup.

Perut harus terisi.
Masa depan harus pasti.
Mimpi harus diberi jalan.

Yunda tak berhenti pada nasihat.
Yunda mencari peluang.
Membuka pintu.
Menghubungkan harapan dengan kesempatan.

Bagi Yunda,
membantu kader adalah tanggung jawab moral, bukan basa-basi,
bukan pencitraan.

Buktinya, Banyak kini berdiri tegak,
karena dorongan pelan dari belakang.

Banyak bekerja hari ini,
karena Yunda lebih dulu percaya
pada mereka, dari pada mereka percaya diri.

Sebagai Aleg,
kursi bukan singgasana,
melainkan jembatan.

Jembatan bagi rakyat kecil.
Jembatan bagi kader yang butuh peluang.

Yunda memilih mengabdi,
bukan sekadar hadir.

Datang.
Mendengar.
Memperjuangkan.

Tanpa gaduh,
namun nyata.

Ketulusanmu tak butuh diumumkan,
ia hidup dalam yang terbantu.

Di usia ke-51 ini,
kami merangkai doa:

Semoga Allah melapangkan langkahmu.
Menjadikan setiap peluang yang kau buka, sebagai amal tak terputus.

Semoga jabatan tetap kau jaga
sebagai amanah,
bukan kebanggaan.

Dan selama engkau memperjuangkan rakyat,
semoga Allah memperjuangkanmu.

Selamat bertambah usia, Yunda.
Teruslah menjadi harapan,
bagi kader,
bagi masyarakat.

Gorontalo, 26 Februari 2026

Tentangku:

Fadli Sukriani Melu, nama penaku Kang Ly. Aku seorang pria, Alumni Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo yang keseharian berkelana dengan “Pena”, memandang dunia, mengabarkan pada mereka. Di sela waktu, akupun mengajar di salah satu kampus di Gorontalo. Jika berkenan untuk saling menyapa, kutitipkan Instagram: @fadlimelu

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi

Dia, tak dapat dicerna oleh akal. Semakin kumengenalnya,…

Puisi

Dibalik ruas jari jemari mengunci, tertukilkan risalah. Terpahat…