Oleh: Kabid PTKP Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gorontalo, Syawal Hamjati
HIMPUN.ID – Satu tahun kepemimpinan di Kota Gorontalo seharusnya menjadi momentum evaluasi yang jujur, bukan ruang perayaan yang dipenuhi euforia.
Bagi Bidang PTKP HMI Cabang Gorontalo, satu tahun kerja ini bukanlah fase yang layak dirayakan, bahkan tidak pantas untuk di rayakan, melainkan saat yang tepat untuk menilai secara objektif apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar menghasilkan perubahan.
Sebab ukuran keberhasilan pemerintahan bukan pada seberapa sering capaian diklaim, tetapi pada seberapa nyata perbaikan yang dirasakan masyarakat.
Dalam konteks persoalan sampah, realitas yang dihadapi kota hari ini menunjukkan bahwa jarak antara narasi dan fakta masih sangat lebar.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Gorontalo menunjukkan bahwa produksi sampah harian masih berada pada kisaran sekitar 180 ton per hari, meningkat dari periode sebelumnya yang berada di angka sekitar 140 ton.
Angka ini menjadi indikator paling konkret bahwa persoalan sampah belum mengalami penurunan signifikan. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, slogan “Bekeng Bae Sampah” justru dipromosikan sebagai simbol keberhasilan satu tahun kerja.
Padahal hingga saat ini tidak ada rilis data terbaru yang secara terbuka menunjukkan penurunan volume sampah, peningkatan persentase pengolahan, atau indikator capaian yang dapat diverifikasi publik.
Ketika klaim tidak diikuti dengan legitimasi data teknis, maka euforia yang dibangun hanya berdiri di atas persepsi, bukan realitas.
Lebih jauh, persoalan ini menjadi semakin paradoks ketika pemerintah sebenarnya telah mengerahkan sumber daya yang tidak kecil.
Sekitar 70 persen anggaran kelurahan telah dialihkan untuk mendukung penanganan sampah. Tambahan armada diupayakan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, dan dukungan kelembagaan dari DPRD Kota Gorontalo juga telah diberikan.
Secara kebijakan dan dukungan politik, instrumen telah tersedia. Namun fakta di lapangan tetap menunjukkan bahwa volume sampah tidak berkurang secara signifikan.
Artinya, persoalan utama hari ini bukan pada kurangnya program atau anggaran, melainkan pada efektivitas tata kelola dan implementasi.
Situasi ini menimbulkan kesan bahwa energi pemerintah lebih banyak diarahkan pada pembangunan citra keberhasilan dibandingkan pada penguatan sistem yang berdampak langsung.
Bahkan hingga kini, dinas teknis yang bekerja di lapangan masih mengakui bahwa persoalan sampah belum selesai dan masih menjadi momok utama kota.
Jangan sampai dinas berani jujur terhadap realitas, sementara kepemimpinan politik justru sibuk memproduksi optimisme yang tidak sepenuhnya ditopang oleh data. Ketika narasi keberhasilan bergerak lebih cepat daripada perbaikan kondisi, maka publik akan melihat adanya kontradiksi yang tidak bisa disembunyikan.
Dalam konteks ini, klaim keberhasilan berpotensi menjadi tameng komunikasi untuk meredam kritik berbasis fakta yang disampaikan oleh Bidang PTKP HMI Cabang Gorontalo.
Alih-alih menjawab kritik dengan keterbukaan data dan evaluasi sistem, respons yang muncul sering kali berupa pembelaan yang dipercepat di ruang publik bahkan sering kali seolah hanya mencari kesalahan, sebagai upaya pembelaan.
Padahal dalam tata kelola pemerintahan yang sehat, kritik seharusnya dijawab dengan angka, indikator, dan perbaikan nyata bukan dengan narasi yang menenangkan tetapi tidak mengubah keadaan.
Realitas yang dihadapi masyarakat tetap sederhana dan kasat mata: tumpukan sampah masih ditemukan di berbagai titik kota, kapasitas TPS sering melampaui daya tampung, dan pengangkutan belum merata.
Hal ini dikarenakan oleh pengelolaan yang belum sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Gorontalo No 12 Tahun 2017 tentang pengelolaan sampah.
Jika kondisi faktual masih seperti ini, maka perayaan satu tahun kerja justru berisiko menjadi ironi kebijakan. Kota tidak membutuhkan euforia, kota membutuhkan penurunan angka masalah. Kota tidak membutuhkan slogan yang kuat, tetapi sistem yang bekerja.
Karena itu, bagi Bidang PTKP HMI Cabang Gorontalo, satu tahun kepemimpinan ini bukanlah momentum untuk dirayakan, melainkan momentum untuk diakui secara jujur bahwa persoalan sampah masih jauh dari selesai.
Keberanian untuk mengakui kekurangan akan jauh lebih bermakna daripada kebanggaan yang tidak tercermin dalam data. Sebab sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering mengklaim berhasil, tetapi siapa yang mampu menurunkan masalah secara nyata.
Jika setelah pengalihan anggaran besar, tambahan armada, dan dukungan politik yang kuat, volume sampah masih tetap tinggi bahkan meningkat, maka hari ini bukan hari perayaan.
Hari ini adalah pengingat bahwa Kota Gorontalo masih berada di antara dua kenyataan: euforia yang dibangun di ruang narasi dan fakta yang tetap bertahan di ruang kehidupan masyarakat. Dan selama fakta itu belum berubah, maka satu tahun kerja bukanlah capaian yang layak dirayakan.
Kota Gorontalo hari ini adalah sebuah mahakarya panggung sandiwara; di mana Wali Kota sibuk memanen pujian di ruang rapat, sementara masyarakat sibuk memanen lalat di depan rumah.
Akhir kata, teruntuk Tuan Jubir, ingatlah bahwa jabatan Anda dibayar untuk menjelaskan fakta, bukan untuk menjadi tukang rias kegagalan pemerintah yang mulai tercium aromanya hingga ke gang-gang sempit kota.*
Catatan Redaksi: Redaksi menerima tulisan opini ini sebagai bagian dari ruang publik dan kontrol sosial. Seluruh isi, data, dan opini yang terkandung dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi HIMPUN.ID senantiasa menjunjung tinggi UU Pers No. 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik, serta memberikan ruang Hak Jawab maupun Hak Koreksi bagi pihak yang merasa keberatan dengan isi tulisan ini.














