Oleh: Apris Nawu
HIMPUN.ID, OPINI – Mahasiswa zaman sekarang memang bedah dengan masa itu.
Persoalan yang selalu ada pada mahasiswa dewasa ini cenderung kurang baik, utamanya pada karakteristik kepribadian dan psikologis mahasiswa makin hari makin memburuk.
Dimulai saat sering mengerjakan deadline yang kian hari kian menumpuk.
Hal ini sudah biasa dilakukan mahasiswa mengingat jam-jam tersebut adalah waktu untuk beristirahat.
Pada saat dosen mulai menerangkan materi, tak jarang masih ada mahasiswa yang kurang memperhatikan seperti berbicara dengan mahasiswa lain, bermain gadget, membaca novel dan lain lain.
Cuplikan cerita tersebut telah menggambarkan ada yang salah dari cara pola pikir mahasiswa tentang arti penting pendidikan.
Mahasiswa adalah sebuah nama panggilan bagi orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di perguruan tinggi.
Pemikiran kritis, konstruktif dan demokratis selalu lahir dari pola pikir mahasiswa.
Suara-suara mahasiswa yang saat itu kerap kali mempresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di lingkungan mahasiswa maupun masyarakat sekitar.
Sikap idealisme mendorong para mahasiswa untuk memperjuangkan banyak aspirasi rakyatnya yang hari ini menderita.
Bukti nyata dan rill di lapangan telah menunjukan sikap mahasiswa saat ini cenderung lebih (hedonis), (apatis) dan selalu mengikuti perkembangan zaman dengan segenap perubahan global, lebih banyak dari pada mahasiswa yang mau berdiskusi dan senantiasa menyuarakan hak-hak rakyat.
Memang, dilematika gerak dan langkah mahasiswa tersebut tak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada mahasiswa itu sendiri, tetapi banyak elemen penting terkait mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Hal tersebut cenderung seperti itu tidak dapat kita salahkan karena tuntutan zaman dengan segenap modernitasnya yang menyebabkan mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya bertindak seperti layaknya orang yang berglamor ria dan cenderung bersikap (hedonis).
Mahasiswa yang dikenal dengan agen perubahan juga lebih dituntut untuk unggul dalam hal (akademik), sehingga ada sedikit mahasiswa yang lebih mengedepankan aspek ilmu akademik dibandingkan mengedepankan aspek kreativitas bakatnya.
Hal itu mengakibatkan sikap (apatis ) dan (hidonis) hingga pada akhirnya merajalela di lingkungan kampus.
Definisi kampus yang sebenarnya adalah tempat mendidik manusia menjadi dewa dan menjadi orang bijaksana. Bukan sebagai tempat industri pencetak robot bagi kebutuhan pasar.
Kondisi ini kemudian telah mengubah kampus menjadi pabrik-pabrik yang dihuni oleh para robot, dan dari sana pula saat ini memproduksi robot-robot baru yang siap diatur dan (didikte) oleh sistem kaku dan sedikit menjajah.
Bahkan lebih tragis, berpikir kritis di kampus berarti dianggap oposisi.
Maka matinya pola pikir kritis di dunia akademik telah banyak bukti dan sudah terbukti zaman sekarang.
Karenanya, mahasiswa perlu berusaha untuk mengubah pola pikir dan tingkah lakunya.
Mahasiswa harusnya mencoba melihat realitas bangsa yang acap kali mengalami degradasi nilai dalam segala bidang.
Jangan sampai kita larut akan kehidupan globalisasi yang takkan ada hentinya ini, tetapi perlu sebuah upaya yang berkesinambungan dan memahami kembali peran awal kaum terpelajar dalam dinamika kehidupan bangsa maupun dunia kampus.
Jadi mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai pola pikir kritis yang masih bersemangat dan peka terhadap hal yang ada disekitar dan keinginan untuk merubah sangat tinggi.
Tapi sekali lagi perubahan baik ini tergantung mahasiswa sendiri bagaimana mengaplikasikannya.
Jadilah mahasiswa yang aktif dan lebih proaktif dari sekarang bukan hanya diam saja dalam persoalan Sosial.
Mari bangkit dan belajar lagi jadilah mahasiswa yang dikenal dengan agen perubahan bukan jadi mahasiswa agen perasaan.**
Penulis adalah Ketua Bidang Pengembangan Organisasi PAPMIB-G 2021. Kader Paguyuban Persatuan Aksi Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone Bolango Gorontalo (PAPMIB-G).














