27.2 C
Jakarta
Senin, Juli 22, 2024

Buy now

Thariq dan keceriaan Kurban

HIMPUN.ID “Karena tempat tinggal tidak berarti sesuatu.” Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer. h. 336.

Sebagaimana kemerdekaan, kepercayaan publik tidak diraih melalui upacara serah terima di antara kaum aristokrat. Ia terlahir melalui gelombang debu, asap, dan api.

Keringat, air mata, dan materi ditumpahkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi pengorbanan dan pengabdian. Telah 16 tahun sudah tonggak perjuangan Thariq Modanggu dikibarkan dengan tiga kali pesta demokrasi daerah dilaluinya.

Thariq adalah sebuah catatan serius tentang lakon pemuda dan kematangan seorang cendekiawan Serambi Madinah. Ia sebagai seorang anak bangsa yang moderat, sangat dingin menjaga marwah diri dan menempatkan semua secara setara.

Ruang media sosial, terutama belakangan ribut dengan beragam spekulasi cuitan dan berita soal keputusannya maju atau tidak pada Pilkada.

Secara garis besarnya, selaku Ketua DPD Golkar Gorut, partai beringin itu menyodorkan 3 opsional sikap diantaranya memuat tentang arah politiknya kedepan.

Situasi mulai di arak-arak oleh sekelompok lovers dan haters-nya. Tetapi, Thariq berdiri tegak. Ia menundukkan dirinya. Memberi hormat atas sikap dan pikiran yang mencoba menerka-nerka soal dirinya melanjutkan atau menutup pintu pengabdian yang selama ini ia jalani.

Sontak berita medsos beredar kesana-kemari, status, komentar, share membanjiri linimasa. Segala arah prediksi mulai dilayangkan, tentu saja masih sebatas sudut pandang. Bahkan mungkin saja, konsolidasi yang menghampiri matang.

Bagi sebagian orang, Thariq dipandang sebagai penghalang. Bahkan ia dinilai bisa menjadi jembatan kekuasaan. Ada ambisi dan kerakusan yang menguasai lawan dan kawannya, sementara ia harus bertarung sendiri. Ia tersadar dan terus terjaga.

Meski Thariq berdiri sendiri, ia tetap satu sosok yang besar. Butuh puluhan taktik untuk menghadang dirinya yang sendirian.

Ada perbedaan makna besar antara korban dan kurban. Korban adalah situasi dalam keadaan pilihan, tersudutkan, sampai mungkin sebuah keterpaksaan. Sedangkan kurban adalah penyerahan diri terhadap kebaikan. Sebuah penghambaan.

Dan Thariq berada pada situasi keduanya. Pada fisiknya ia seorang korban. Tetapi dalam nilai spiritualnya, ia melakukan kurban.

Thariq menghambakan dirinya pada mereka yang mencibirnya. Namun, bukankah tantangan adalah sebuah kehormatan? Menuju puncak perjuangan kemanusiaan.

Satu orang terkapar oleh trik politik bukanlah orang kalah. Ialah pemenangnya. Thariq, kerap saja menang karena ia mampu menguasai dirinya untuk tetap berdiri pada prinsipnya. Tetap menghormati sebuah proses pengabdian.

Partai juga politik untuknya bukan bukti bahwa dia kalah. Dia menang karena ia berhasil meninggalkan pesan penting yang akan dicatat sejarah: keceriaan tak pernah takut untuk sendiri.

Kita semua tanpa sadar sudah menyembelihnya. Menyembelih mimpinya. Menyembelih haknya. Menyembelih kehormatannya.

Tetapi ia tetap tenang, menerima semua prasangka atas keputusan yang ditentukannya dan apapun yang akan datang padanya nanti.

Lalu, apa pelajaran penting yang bisa dipekikan dari sosok Thariq Modanggu itu adalah dedikasi, ketulusan, keinginan kuat untuk bekerja. Bukan untuk diri sendiri saja, tapi untuk banyak orang yang membutuhkan tangannya.

Jika ia semata-mata ingin berkuasa, ia hanya mengejar yang bisa membuat senang semua orang. Ia tidak begitu. Ia bukan mengejar bagaimana membuat semua orang merasa senang, tapi lebih memberikan fokus pada bagaimana meletakkan segalanya pada tempat yang benar.

Thariq tentunya saja sadar, keceriaan itu takkan menyenangkan bagi semua orang. Namun, ia memilih untuk tidak disenangi orang-orang sepanjang bisa menempatkan sesuatu pada proporsi yang semestinya.

Paling tidak, ia dengan kesendiriannya masih bisa membawa pesan sangat berharga; bahwa segala yang berharga memang lebih menyita tenaga.

Thariq laki-laki yang cukup percaya diri. Karena ia percaya ada kekuatan semesta yang takkan membiarkannya hanya bekerja sendiri. Ia menularkan cara pandang bagaimana menjadi pemberani sebenarnya. Memerangi ihwal politik purba yang saling meniadakan diantara sesama.

Baca juga:Dugaan Penistaan Profesi Pers, Rum Pagau Bakal Dilaporkan ke DP dan DPP Partai NasDem

Thariq berani bukan karena berapa jumlah orang di belakangnya. Ia berani karena melihat betapa besar keceriaan yang bisa ditinggalkan dengan kesungguhannya.

Thariq hanya berdiri dengan kedua kakinya sendiri, tanpa memaksa kaki siapa pun sebagai penyangga. Ia bekerja mengandalkan tangannya sendiri, dan tak ingin melelahkan tangan siapa pun.

Dan dari sembelihan itu, lahirlah jiwa-jiwa baru yang kemudian berkumpul menjadi satu tanpa terlihat dan nyata. Mereka membawa sukma pelita, agar ia tetap harus menyala diatas kepentingan rakyatnya.

Memaknai kurban itu sebagai pesan spiritual. Sebuah pelajaran. Sesuatu yang luas. Jauh dari sifat material.

Jikapun ada ritual seperti penyembelihan hewan, itu lebih dari sekadar sebagai pengingat, supaya pesan itu tetap terjaga dan menjadi pelajaran bagi manusia dari masa ke masa. Dan hewan sembelihan, menjadi terhormat karenanya.

Didalam kurban, selalu lahir nilai-nilai baru. Seperti ulat yang menjadi kupu-kupu. Lebih indah bentuknya, dan lebih merdeka jiwanya.

Seperti seorang Hussain yang menyerahkan tubuhnya untuk dimutilasi oleh puluhan ribu pasukan yang mengaku mengikuti agama Muhammad, kakeknya.

Seperti seorang Mahatma Gandhi yang merelakan hidupnya ditangan orang yang seagama dengannya.

Mereka berkurban. Menyerahkan jiwanya dalam keadaan sadar untuk kebaikan. Apakah mereka mati ? Tidak. Mereka hidup di dalam hati bagi setiap langkah manusia pemberani. Sampai kini.

Hari ini kita masih berada pada hari raya kurban. Sebuah perayaan atas kemenangan jiwa-jiwa merdeka yang menghambakan dirinya demi kebaikan manusia.

Dan saya bahkan jutaan anak-anak muda Gorontalo Utara selalu berdoa, kelak ingin berada di jalan mereka. Dengan keceriaan seorang Thariq Modanggu. Dengan kepasrahan seperti Gandhi. Dan keberanian seperti Hussain.

Penulis: Zulkarnain Musada
(Dosen Universitas Dumoga Kotamobagu)

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)