Dia Yang Kusebut dalam Doa

Dia Yang Kusebut dalam Doa' (Ilustrasi Foto: Pixabay/iqbal nuril anwar)

Penulis: Fadli Melu

HIMPUN.ID, CERPEN – Jalan hidupku terjang cukup menantang. Sulit memang berjuang dengan perasaan.

Namun, Tuhan selalu melihat kesungguhan perjuangan, bukan omongan tak terealisasikan.

Apalagi bagi kamu lelaki, yang dipegang ialah setiap kalimat terucap. Kelak kemudian kamu tidak dituntut oleh kesalahan, bahwa kamu omong doang.

Perjuangan cinta bukan untuk menang. Tapi, tentang pengalaman bercinta untuk memperbaiki cara-cara mencintai. Sebab, kadang cinta yang dianggap adalah ego yang tak tersadarkan.

Hanya ‘Dia’ yang mampu menggetarkan Jiwa. Setelah sembuh dari perihnya cinta, bahkan tak tau harus gimana lagi mencintai wanita selain Ibu.

Advertisement

Teruntuk Dia

Teruntuk ‘Dia’ yang kembali menggetarkan jiwa. Setelah sekian lama hati merasa hambar mengenal wanita. Bahkan, kutak tahu kapan lagi energi cinta akan mengalir pada wanita selain Ibu.

Hari itu, cuaca cukup mendung. Seperti biasa gadget selalu menjadi teman setia, walau mata kadang bosan menatapnya. Namun, ‘Dia’ hadir melewati benda persegi panjang kugenggam.

Di situlah aku membuat skenario kecil untuk dipertemukan. Komunikasi dimuali ‘Dia’ cukup respon tentang beberapa Project yang kutawarkan.

Kebetulan ‘Dia’ butuh bantuan dan aku cukup penasaran adakah pasangan yang menemani kehidupan-nya.

Mencari Tahu tentang ‘Dia’

Diskusi berlangsung lama. Sampai pada kata sepakat akhirnya kerjasama dimulai.

Namun, seiring dengan kerjasama, tak lupa aku mencari tahu tentang ‘Dia’.

Akhirnya, petunjuk datang lewat benda yang sama. Benda yang berbentuk persegi panjang yang setia kugenggam. Pada layar itu, genggaman laki-laki cukup mesra meletakan tangan pada bahunya.

Perlahan tapi pasti, kecewa tidak sih?. Tapi, harus mundur, dari pada dicap sebagai PEHUOR (Perusak Hubungan Orang). Tapi, tidak sampai di situ, kupikir semua akan berhenti. Namun, hanya tertunda setelah berapa bulan lamanya.

Kala duduk bersama diskusi perihal akaemisi. Seketika, obrolan romantisme nimbrung. Ternyata, dia sudah tak bersama lagi kekasihnya itu.

Lantas, niat memberanikan diri mengungkapkan energi yang kurasa. Setelah sekian lama kulampiaskan dalam doaku.

Dalam sujudku menyapa namamu. Memikirkan dibalik ucapan. Dan menyentuhmu dibalik jasad. Ialah cara terbaik merawat getaran yang ada.

‘Dek, jujur aku merasakan getaran. Mengagumimu. Mungkin, kaulah wanita yang hadir kembali menggetarkan rasa. Setelah sekian lama terasa hambar.”

Tapi, seperti biasa. Dengan gengsi, harus kukatakan belum butuh jawaban. Pasca itu getaran semakin dahsyat. Bahkan, sulit untuk dikendalikan.

Menagih Janji

Akhirnya, kuputuskan untuk menagih jawaban atas apa yang pernah terucap.

Dan jawaban bahagia pun hadir malam itu. “Belum kak!” Dia masih merasa hambar pada setiap lelaki.

Karena, pengalaman kecewa dan sakit masih menghantui. Alasan yang cukup menarik. Memberikan ruang dan harapan. Masih ada kesempatan untuk berjuang.

Pasca itu, aku lebih fokus mengerjakan tanggung jawab. Berusaha kerja kerasa demi cuan untuk pelaminan.

Baca juga:Jaga Stabilitas Ekonomi Gorontalo, Hamka Sebut Perlu Event Lokal Maupun Nasional

Kuhabiskan hari-hari bersamanya tanpa ungkapan cinta. Melainkan, hanya sekilas kerjasama yang terbangun.

Namun, entah mengapa setelah moment kerjasama. Energi semakin membengkak. Hingga, akupun hanya bisa bersujud dan melantunkan beberapa bait al-Qur’an untuk mengirim doa kepada Allah.

Dibalik sujud doaku masih sama “JIKALAU DIA JODOH TERBAIK UNTUKU, MAKA BERIKAN PETUNJUKMU AGAR KUBISA BERADA DISAMPINGNYA DI MASA DEPAN,Namun, JIKA DIA MEMBAWA MALAPETAKA, JAUHKAN DIA DARIKU.”

Kesekian kalinya moment itu aku hadirkan. Aku tidak mau lagi beronani sendiri. Harus kuputuskan menagih janji.

Bahwa kata belum terucap apakah memberikan kesempatan atau hanya sekadar tangkisan sudah punya yang lain. Namun, masih saja. Kejujuran tak kunjung datang.

Setelah beberapa lama aku fokus terhadap kerjasama yang dibangun. Setelah mendapatkan hasil bisa ujian. Akupun meminta waktu ‘Dia’.

Sekadar mengungkap kembali niat suci yang hadir atas petunjuk Tuhan. Disitulah dia jujur bahwa, sudah ada lelaki lain yang mengisi hatinya.

Bahkan, dia pun jujur selalu berdoa istikharah tentang rasanya padaku. Namun, tak pernah hadir.

Curhat Kepada Allah

Pasca moment itu. Aku cukup legak. Setelah tergantung sekian lama. Aku pun malamnya curhat kembali kepada sang Khaliq. Meminta petunjuk atas apa yang terjadi.

Akan tetapi, Tuhan masih memberikan ruang dan kesempatan untuk berjuang atad nama Cinta. Bahwa, Cinta bukan untuk menang, tapi sejauhmana kita berjuang mendapatkan pembelajaran dan pengalaman untuk memperbaiki cara-cara mencintai. Selain pada Tuhan, kucurahkan segala ucapan hatiku pada Guruku yang selalu setia menemani kala suka dan duka.

Akhirnya, guruku menyemangatiku. Berjuanglah…!!! Bukan untuk memenangkan dan memiliki.

Kelak kemudian dibalik perjuangan yang kau lakukan, akan memberikan kekuatan hati yang lebih dahsyat.

Kalaupun dia menolak karena perjuanganmu, dia tidak akan menyalahkanmu sebagai lelaki pecundang yang tidak mau berjuang terhadap cinta yang hadir. Bahkan, Guruku mengatakan “Beruntunglah Kamu Yang Memiliki Separuh Jiwanya Karena Allah.”

Atas Petunjuk Allah dan Guruku, kuputuskan untuk berjuang sekali lagi. Sampai, kata Khitbah itu benar-benar terucap antara ‘Dia’ dan orang lain.

Kalaupun, ‘Dia’memang miliku. Yakin dan percaya, Tuhan akan buatkan Skenario hebat untuk saling bertemu dan memiliki.

Nantikan, episode selanjutnya. Akan kulanjutkan, setelah dia benar-benar Dikhitbah olehku atau olehnya.

Catatan : Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis

(Info: himpun.id menerima kontribusi tulisan dengan berbagai tema. Rubrik tulisan yang dapat di kirim yakni Opini, Resensi, Cerpen, Puisi, Tips, Edukasi, Khazanah, dan lain sebagainya, selagi bermanfaat)

Advertisement

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini