Example floating
Example floating
VIRAL

Sorotan Tajam Wahyu Badaru Terhadap “Sistem Cacat” yang Lahirkan Pejabat seperti Wahyudin Moridu

0
×

Sorotan Tajam Wahyu Badaru Terhadap “Sistem Cacat” yang Lahirkan Pejabat seperti Wahyudin Moridu

Sebarkan artikel ini
Sorotan Tajam Wahyu Badaru Terhadap "Sistem Cacat" yang Lahirkan Pejabat seperti Wahyudin Moridu (kolase foto: Wakilrakyatdotco/Fb Wahyudin Moridu/Ft Wahyu Badaru)

HIMPUN.IDJagat media sosial kembali digegerkan dengan video viral yang menampilkan seorang anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Wahyudin Moridu.

Dalam video berdurasi 37 detik, Wahyudin Moridu secara gamblang mengaku menggunakan uang negara untuk membawa selingkuhannya, yang ia sebut sebagai “hugel,” ke Makassar.

Video yang diunggah oleh akun TikTok Wakilrakyatdotco pada Jumat, 19 September 2025 ini memicu kemarahan publik dan menjadi sorotan tajam.

Dalam rekaman tersebut, Wahyudin Moridu terdengar tertawa lepas saat berdialog dengan seorang wanita yang diduga selingkuhannya.

“Bos, Bos,” kata wanita diduga selinkuhannya. “Aman negara Makassar kita ji,” saut Wahyudin Moridu. “Tujuan kita hari ini bos?” tanya lagi wanita tersebut. “Kita hari ini menuju Makassar menggunakan uang negara. Kita rampok aja uang negara ini kan. Kita habiskan aja. Biar negara ini semakin miskin. Membawa hugel langsung dari Makassar menggunakan uang negara. Siapa ji? Wahyudin Muridu. Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, nanti 2031 mo berenti uti, masih lama,” kata Wahyudin Moridu dengan nada tertawa lepas.

Pernyataan ini sontak menuai kecaman, terutama dari kalangan aktivis. Salah satu aktivis Boalemo, Wahyu Badaru, menilai ucapan tersebut sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang wakil rakyat.

“Seharusnya perwakilan rakyat hari ini bisa menjadi contoh dan harapan bagi rakyat, bukan malah menjadi orang yang merugikan rakyat sendiri,” ujar Wahyu Badaru dengan nada kesal.

Menurut Wahyu Badaru, kasus ini merupakan dampak dari sistem pemilu dan sistem partai yang dinilai tidak pernah berpihak pada rakyat kecil.

“Situasi hari ini, legislatif hanya dijadikan sebagai tempat mencari keuntungan,” tegasnya.

Baca juga: Viral Video Aleg Provinsi Wahyudin Moridu Diduga Bawa Hugel Pakai Uang Negara

Baca juga:Seruan Minta Wahyudin Moridu Mundur dari Jabatan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Menggema

Dijelaskan Wahyu Badaru, gaji dan tunjangan yang besar, termasuk gaji pensiun yang ditanggung negara, membuat banyak orang berlomba-lomba menduduki jabatan tersebut.

“Dengan gaji dan tunjangan, bahkan gaji pensiun yang ditanggung negara, membuat semua orang berlomba-lomba ingin menduduki jabatan tersebut, akhirnya dewan legislatif yang seharusnya bertujuan untuk mendengar dan memperjuangkan aspirasi rakyat hari ini hanya menjadi tempat untuk bisa mendapatkan keuntungan,” kata Wahyu Badaru.

Wahyu Badaru juga menyoroti kasus-kasus lain yang serupa, yang menunjukkan banyak anggota legislatif sering kali melenceng dari tugas pokok dan fungsi mereka. Ini, menurutnya, membuktikan ketidakmampuan partai politik dalam mencetak kader-kader yang kompeten.

“Kita bisa melihat dari kasus yang terjadi di DPR hari ini merupakan bukti bahwa partai politik bukan menjadi suatu partai yang lahir dari rakyat tetapi hanya sebagai sekumpulan orang untuk kepentingan melipatgandakan modalnya,” kata Wahyu Badaru.

Wahyu Badaru menjelaskan, sistem multipartai yang digunakan di Indonesia, meskipun demokratis, menimbulkan permasalahan baru seperti dominasi partai-partai besar yang lebih fokus pada kepentingan individu dan kelompok, bukan kepentingan rakyat.

Politik uang juga menjadi masalah besar, di mana pemilu sering dijadikan ajang korupsi. Para calon legislatif menggunakan uang untuk membeli suara, yang merusak integritas pemilu dan membuat proses politik terasa tidak adil,” ungkapnya.

Wahyu Badaru menyimpulkan, sistem pemilu yang ada saat ini belum sepenuhnya menjamin terpilihnya pemimpin yang berintegritas.

Wahyu Badaru pun menyerukan agar ada reformasi total pada sistem pemilu, sehingga tidak ada lagi anggota legislatif maupun eksekutif yang tidak berkualitas lahir dari sistem yang cacat.

“Rakyat pun seharusnya dilibatkan dalam keputusan politik yang ada, sehingga kebijakan itu lahir dari rakyat, bukan dari kelas penguasa,” tutupnya, berharap reformasi ini bisa mencegah lahirnya pemimpin-pemimpin yang justru menindas dan merugikan rakyat.

Diberitakan sebelumnya, pasca videonya viral, Wahyudin Moridu telah menuliskan permohonan maaf di akun facebooknya.

“Assalamualaikum Wr Wb

Masyarakat Gorontalo yg sya Hormati,Ba’da Shalat Jum’at in sodara sodaraku sedang di suguhkan dengan video mengenai sya,Apapun yg sya lakukan di video in sya akui SALAH dan tidak Menunjukan Etika Seorang Pejabat Publik.Teman2 sya menerima Hujatan dan Cemohan apapun itu atas hal in,Karna murni hal in kesalahan sya

Hal in tentunya membuat Kegaduhan di masyarakat Gorontao,Jujur dari hati yg paling dalam sya tdk bermaksud demikian,Atas Kejadian ini Saya mohon maaf beribu ribu maaf kepada seluruh Rakyat Gorontalo,bill Khusus kepada Semua pendukung dan Keluarga sya😭😭😭,” tulis Wahyudin Moridu di akun facebooknya.

Terbaru, Wahyudin Moridu juga telah meminta maaf yang divideokan dan diunggah di FB pribadinya.

Hingga berita ini diterbitkan, himpun.id telah menghubungi Wahyudin Moridu via whatsapp untuk meminta klarfikasi lebih lanjut, namun belum mendapatkan jawaban.*

Reporter: Abd Wahit Isima

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *